Sebelum warung bisa menjual satu botol minyak, ia harus membelinya dulu. Barang itu biasanya berpindah beberapa tangan dari pabrik sampai ke rak, dan setiap tangan yang dilewati mengambil sedikit margin.
Siapa saja yang masuk ke ruang ini
Bukalapak, Tokopedia, Warung Pintar, dan Wahyoo lebih dulu membangun layanan untuk warung, lalu disusul GudangAda dan Ula. Idenya sama: memotong jalur distribusi dari produsen ke warung, terutama untuk barang kebutuhan cepat laku. GudangAda bahkan meluncurkan aplikasi manajemen toko lengkap dengan stok, harga, laporan laba rugi, struk, pindai barcode, dan basis data produk.
Angka klaim yang perlu dibaca pelan-pelan
Klaimnya berubah cepat dari tahun ke tahun. Pada Juni 2019, Warung Pintar menyebut lebih dari 2.000 warung mitra di Jabodetabek dan Banyuwangi. Akhir 2019, Bukalapak mengklaim 1,2 juta warung di 477 kabupaten/kota, sementara Tokopedia menyebut 350.000 mitra aktif, dua angka dengan definisi "mitra" yang berbeda.
Pada Agustus 2021, Bukalapak menaikkan klaimnya menjadi 8 juta mitra, istilahnya sudah bergeser dari "warung" ke "mitra". Beberapa tahun kemudian, laporan media menyebut Bukalapak punya lebih dari 17 juta mitra, termasuk warung dan kios, tanpa tanggal pasti.
Satu platform, belasan juta mitra
Jumlah warung di seluruh Indonesia sekitar 3,9 juta, tapi satu platform saja menyebut belasan juta mitra. Penjelasan paling masuk akal: "mitra" mencakup kios dan usaha mikro lain, bukan cuma warung. Pelajarannya, ketika sebuah platform menyebut angka mitra, pertanyaan yang layak diajukan adalah mitra yang mana, aktif atau sekadar terdaftar, dan berapa kali mereka benar-benar bertransaksi.
Kementerian Perdagangan sendiri mendorong kemitraan antara toko kelontong dan grosir ritel modern, tidak hanya soal pasokan barang tapi juga pelatihan manajemen ritel. Rantai pasok itu seperti estafet. Digitalisasi mencoba menghapus pelari di tengah, tapi pelari di tengah itu sebenarnya punya pekerjaan, jadi yang tersisa perlu mengambil alih peran yang sama.