Selama enam bulan pertama 2026, QRIS mencatat 12,55 miliar transaksi menurut Bank Indonesia. Dirata-rata, itu sekitar 69 juta transaksi per hari, atau sekitar 800 transaksi setiap detik, siang dan malam, tanpa henti.
Pertumbuhan yang konsisten naik
Jumlah pengguna dan pedagang QRIS terus bertambah setiap periode. Pada Oktober 2023 tercatat 43,44 juta pengguna dan 29,6 juta merchant. Pada triwulan II 2024, angkanya naik menjadi 50,50 juta pengguna dan 32,71 juta merchant. Sampai Juni 2026, jumlahnya sudah mencapai 65,77 juta pengguna dan 44,86 juta merchant, dengan 96,68% dari merchant itu adalah UMKM.
Sepanjang Januari sampai Juni 2026 saja, ada 6,23 juta pengguna baru. Target Bank Indonesia di akhir 2026 adalah 70 juta pengguna dan 47 juta merchant.
Cerita di balik biayanya
Pada Juli 2023, Bank Indonesia menetapkan biaya transaksi atau MDR sebesar 0,3% untuk usaha mikro tanpa batas nilai transaksi. Banyak pedagang keberatan, dan aturannya kemudian direvisi: transaksi di bawah Rp100 ribu digratiskan. Alasannya, sekitar 70% transaksi QRIS bernilai di bawah Rp100 ribu, dan sebagian besarnya berasal dari usaha mikro.
Mulai 1 Oktober 2026, MDR 0% berlaku untuk transaksi sampai Rp100 ribu bagi semua kategori merchant, dan usaha mikro tetap digratiskan sampai Rp500 ribu.
Bahasa pembayaran bersama
Jumlah merchant QRIS, 44,86 juta, jauh melampaui jumlah warung yang sekitar 3,9 juta. Artinya QRIS sudah dipakai oleh jauh lebih banyak jenis usaha mikro lain, bukan cuma warung saja. Ia menjadi bahasa pembayaran bersama untuk pedagang kaki lima, kios kecil, sampai penjual online.
QRIS itu seperti colokan listrik standar. Satu bentuk yang cocok untuk semua alat, jadi pedagang tidak perlu memasang puluhan jenis stopkontak berbeda hanya untuk menerima pembayaran. Biaya yang terasa kecil tampaknya jadi faktor yang membuat pedagang mikro lebih mau mencoba.
