Alfamart dan Indomaret terasa ada di mana-mana, jadi mudah terlihat seperti raja ritel Indonesia. Tapi ada jaringan toko yang jumlahnya jauh lebih besar, tidak punya logo seragam, dan tidak punya satu pun kantor pusat.
Jaringan yang lebih besar dari yang terlihat
Sekitar 3,9 juta warung kelontong masih beroperasi pada 2025, menurut Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI). Ritel modern berizin, dari minimarket sampai supermarket, hanya sekitar 42.000 gerai. Artinya warung sekitar 90 kali lipat lebih banyak.
Data Euromonitor 2022 menyebut angka yang mirip: 3,94 juta toko kelontong, setara 98,78% dari seluruh gerai ritel di Indonesia. Satu warung biasanya menjual 100 sampai 500 jenis barang, sementara minimarket memajang 1.000 sampai 5.000 jenis. Lebih sedikit variasi, tapi jumlah titiknya jauh lebih banyak dan jauh lebih dekat ke rumah.
Kenapa warung tetap bertahan
Sebuah studi di Kaur Selatan mencatat tiga alasan: kedekatan sosial antara penjual dan pembeli, sistem pembayaran yang lebih fleksibel, dan lokasinya yang tersebar di tengah permukiman. Satu hal lain yang sering disebut tapi jarang ditulis resmi adalah kredit informal, alias utang. Warung tidak hanya menjual barang, tapi juga menjual rasa percaya.
Angka yang ternyata tidak disepakati
Cerita "warung punah" ternyata tidak sesederhana judul beritanya. APKLI menghitung 6,1 juta warung pada 2007 dan 3,9 juta pada 2025, yang berarti 2,2 juta hilang. Tapi sumber lain mencatat 3,57 juta warung pada 2021 dan 3,94 juta pada 2022, angka yang justru naik di periode yang sama.
Tidak ada angka tunggal yang disepakati semua pihak, dan itu sendiri sudah jadi temuan menarik: jaringan sebesar ini belum punya sensus yang rapi. Warung itu seperti urat nadi kecil di seluruh tubuh kota. Sulit dihitung satu per satu, tapi begitu berhenti mengalir, orang di ujung gang langsung merasakannya.