Telepon masuk dengan suara yang terdengar persis seperti anakmu, menangis, meminta uang sekarang juga. Sudah ada modus di mana pelaku mengaku keluarga korban diculik, kadang dengan suara hasil rekayasa atau tiruan suara orang terdekat.
Angka yang mengejutkan
Indonesia Anti-Scam Centre atau IASC menerima 448.442 laporan penipuan sejak 22 November 2024 sampai 31 Januari 2026, dengan kerugian Rp9,1 triliun, menurut Diskominfo Kabupaten Malang. Dana korban yang berhasil diamankan hanya Rp511,08 miliar, sekitar 5,6% dari kerugian. Artinya, setelah uang pergi, sebagian besar sulit kembali. Sepanjang Januari sampai Agustus 2026 saja, IASC menerima lebih dari 668 ribu laporan pengaduan.
Laporan yang terindikasi memakai AI jauh lebih sedikit dari total itu: 1.379 laporan sampai akhir Juni 2026 menurut Antara, terdiri dari 13 laporan di akhir 2024 dan sisanya pada 2025 sampai semester pertama 2026. Hitungan kasar, jumlahnya masih di bawah 1% dari total laporan, tapi naik cepat.
Modus yang paling sering dilaporkan
Menurut OJK, modus yang terbanyak adalah investasi palsu yang memakai deepfake wajah atau suara tokoh publik. Modus lain termasuk robot trading yang mengaku berbasis AI, belanja daring lewat aplikasi yang mengatasnamakan AI, serta panggilan palsu dengan kloning suara atau wajah. OJK menegaskan AI bukan pelaku kejahatan, tapi alat yang membuat penipuan lebih meyakinkan, cepat, dan sulit dikenali. Pada Oktober 2026, Malang Post melaporkan seorang warga Malang rugi Rp80 juta karena kloning suara AI.
Kebiasaan yang melindungi
Yang berubah bukan niat penipu, tapi biayanya. Dulu meniru suara atau wajah butuh keahlian, sekarang cukup aplikasi. Karena itu, "suaranya persis" atau "videonya mirip" sudah tidak cukup jadi bukti. Lima kebiasaan yang melindungi: hentikan dan tutup telepon, lalu hubungi orang itu lewat nomor yang sudah kamu simpan sendiri; sepakati kata sandi keluarga untuk situasi darurat; terapkan prinsip 2L dari OJK sebelum transaksi, logis dan legal; jangan percaya iklan investasi dengan wajah pejabat atau artis sekalipun videonya terlihat nyata; dan kalau sudah terlanjur, segera hubungi bank untuk menghentikan transaksi dan laporkan ke IASC lewat layanan 157.
Deepfake itu seperti stempel palsu yang makin mirip aslinya. Pertanyaannya bukan lagi "stempelnya asli atau tidak", tapi "apakah ada cara kedua untuk memastikan".