Dua orang bertanya soal topik yang sama ke AI. Yang satu mengetik "buatkan artikel tentang bank sampah". Yang lain menjelaskan siapa pembacanya, berapa panjangnya, dan dari mana datanya. Hasilnya bisa berbeda jauh, dan yang kedua jauh lebih mudah dicek.
Pegangan dari panduan resmi
Panduan Dikti untuk AI generatif menyarankan agar masukan ke AI mencakup spesifikasi informasi yang diinginkan serta sumber informasinya, supaya efek halusinasi berkurang. Tren teknis di baliknya dikenal sebagai RAG, singkat kata AI diminta menjawab berdasarkan teks atau sumber yang kamu berikan sendiri, bukan hanya mengandalkan ingatannya yang kadang keliru.
Ada empat bahan yang membuat sebuah pertanyaan jadi baik: konteks, yaitu siapa kamu dan untuk apa jawabannya; tugas, yaitu apa yang harus dikerjakan dengan kata kerja yang jelas; format, yaitu panjang, gaya bahasa, dan bentuk keluaran; serta batasan, yaitu apa yang tidak boleh dikarang dan apa yang harus dilakukan kalau AI tidak tahu.
Izinkan AI bilang tidak tahu
Kalimat "kalau tidak tahu, bilang tidak tahu" ternyata salah satu kalimat paling berguna yang bisa kamu tambahkan ke sebuah prompt. Riset OpenAI tentang halusinasi menunjukkan model cenderung menebak karena itu sering terlihat lebih baik di penilaian. Instruksi eksplisit seperti ini memberi ruang bagi AI untuk tidak menebak, dan membuat jawabannya lebih mudah diperiksa.
Setelah dapat jawaban, ada tiga pertanyaan lanjutan yang layak ditanyakan: dari mana informasi ini berasal, dan bisakah kamu membuka sumbernya sendiri; bagian mana yang paling mungkin salah; dan kalau ini salah, apa akibatnya buatmu.
Bertanya ke AI itu seperti memberi arahan ke ojek online. Alamat yang jelas dan patokan yang spesifik membuatmu sampai lebih cepat dan tidak nyasar.