Timbulan sampah nasional 2023 muncul di berbagai laporan dengan angka dari sekitar 19 juta sampai hampir 70 juta ton. Selisihnya lebih dari 50 juta ton. Salah satu sebabnya: jumlah kabupaten/kota yang melapor ke sistem tidak pernah sama dari satu laporan ke laporan lain.
Angka yang goyah karena pelaporan yang goyah
KLHK sendiri pernah menyebut 38,6 juta ton dari 365 kabupaten/kota yang melapor, dan proyeksinya bisa mencapai sekitar 64,6 juta ton jika seluruh 514 daerah di Indonesia ikut melapor. Pada 2025, baru 244 kabupaten/kota yang benar-benar melapor.
Di dalam data itu sendiri ada kesenjangan tajam: ada daerah yang tercatat hampir 100% sampahnya terkelola, dan ada yang nyaris nol, beberapa daerah di Lampung pada 2025, misalnya. Satu analisis bahkan mencatat kapasitas pengelolaan sampah nasional turun dari di atas 60% pada 2021 sampai 2022 menjadi sekitar 33% pada 2025, seiring data yang makin melemah.
Pertanyaan yang lebih dasar dari sekadar "canggih"
Sebelum bicara soal analisis yang rumit, ada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah kita bisa memercayai angkanya? Data yang tidak lengkap membuat keputusan terlihat ilmiah, padahal sebenarnya meleset. Inilah kenapa pencatatan di tingkat bank sampah, titik data paling dekat dengan sumbernya, menjadi sangat penting.
Dari data ke keputusan
Bayangkan tiga skenario sederhana di satu bank sampah (angka berikut hanya ilustrasi cara berpikirnya, bukan data nyata dari lapangan):
- Kalau PET yang terkumpul mencapai 2.000 kg per bulan, itu artinya PET adalah material dominan. Keputusannya: cari pembeli atau mitra PET langsung, dan jual dalam volume besar.
- Kalau setoran turun 30% dalam satu bulan, itu artinya nasabah aktif sedang menurun. Keputusannya: cek jadwal buka, kirim pengingat, atau tanya langsung alasannya ke nasabah.
- Kalau harga kardus dari pengepul turun tiga bulan berturut-turut, itu artinya margin sedang menipis. Keputusannya: bandingkan pengepul lain, atau tahan stok sementara waktu.
Data itu bahan mentah di dapur. Informasi adalah bahan yang sudah dipotong dan diracik. Keputusan adalah menu yang akhirnya dihidangkan.